Salah satu momen yang membuat saya bangga
sebagai alumni UGM adalah ketika Sensei (profesor pembimbing) datang
kepada saya dan berkata, “Grup ri
set
kita diberi jatah untuk mendatangkan mahasiswa asing dengan beasiswa
Monbusho. Kita diberi wewenang untuk memilih siapa saja yang kita anggap
pantas dan layak. Seleksi di universitas hanyalah formalitas. Saya
limpahkan wewenang itu kepada kamu, dan saya minta kamu memilih alumni
UGM untuk kita undang. Ya, alumni UGM seperti kamu. Saya ingin lebih
banyak lagi pekerja keras seperti kamu di grup kita.” Sebagai respon,
saya kontak adik kelas saya di FMIPA UGM, kemudian dia memenuhi undangan
kami. Kini dia sudah selesai kuliah di program doktor dan menjadi dosen
di suatu PTN di Jawa Tengah.
Saat itu saya sudah lulus program doktor dan bekerja sebagai visiting
researcher di bawah bimbingan Sensei, di Kumamoto University, Jepang.
Saat itu sudah enam tahun lebih saya berinteraksi dengan beliau. Masa
yang cukup panjang. Saat itu adalah titik diametral bila dibandingkan
dengan saat saya pertama kali bertemu untuk mulai kerja riset di bawah
bimbingan Sensei.
Kata-kata Sensei yang pertama saya dengar
setelah kami berbasa-basi berkenalan adalah, “
Tolong kamu kerja keras di
sini. Jangan bawa-bawa budaya tropis kamu ke sini.”
“
Maksud Sensei bagaimana? Budaya tropis itu apa?” tanya saya tak paham.
“
Kalian orang-orang tropis itu kan pemalas. Makanya kalian tertinggal.
Lihat kami orang Jepang, Korea, dan Cina. Apa yang kamu lihat di depanmu
saat ini, kemajuan ekonomi dan teknologi, semua ini tidak gratis. Kami
memperolehnya dengan kerja keras. Tirulah cara kerja kami.”
Tentu
saja saya tersinggung dengan ucapan itu. Tapi saya memilih diam. Karena
saya tahu, percuma berdebat dengan kata-kata. Perbuatan akan lebih
meyakinkan. Maka saya tunjukkan kepada Sensei bahwa saya bukan pemalas.
Butuh waktu yang panjang ketika akhirnya dia mengakui kerja keras saya.
Dan dia tidak hanya melihat saya sebagai sosok pribadi. Dia memandang
saya sebagai alumni UGM. Bahkan, dia memandang saya sebagai orang
Indonesia. Kehadiran saya teleh mengubah pandangan Sensei tentang orang
Indonesia.
Situasi yang saya hadapi saat pertama kali bertemu
Sensei mungkin akan dihadapi oleh banyak orang saat akan mulai sesuatu.
Termasuk di antaranya yang baru lulus. Lalu mereka akan menempuh
perjalanan untuk membuktikan diri, sampai mendapat pengakuan. Ada yang
butuh waktu sangat lama, ada yang lebih singkat. Tapi apapun juga, hanya
pekerja keras dan pantang menyerah yang bisa lolos dari tantangan ini.
Kerja keras. Hanya itulah yang saya miliki saat itu. Kebetulan saya
bukan mahasiswa yang sangat cerdas. Saya bukan orang brilliant.
Menariknya, dalam kultur Jepang tata krama dan kerja keras lebih
dihargai ketimbang kecerdasan belaka. Kerja riset itu sendiri, di
samping membutuhkan kecerdasan, juga membutuhkan kreativitas. Tapi di
atas itu semua, kerja keras memang paling menentukan.
Beberapa
bagian dari kerja riset itu mirip kerja rodi. Saya misalnya bekerja
dengan alat yang disebut diamond anvil cell, yang mengharuskan saya
menempatkan sampel di dalam ruang berdiameter kurang dari 0.3 mm. Di
situ kecerdasan tak banyak berperan. Hanya ketekunanlah yang berarti.
Berbulan-bulan melatih tangan, barulah hal itu bisa dilaksanakan.
Periset lainpun begitu. Ada yang menghabiskan waktu berhari-hari kerja
nyaris tanpa henti untuk menumbuhkan kristal. Tidur di laboratorium,
makan dan istirahat seadanya adalah hal yang biasa. Tak ada orang lain
yang bisa disuruh untuk melakukan pekerjaan-pekerjaan “sepele” itu.
Peneliti sendiri yang harus melakukannya. Justru di situlah kunci sukses
seorang peneliti. “Kenkyusha no ude”, hasil kerja tangan setiap
peneliti, itulah yang membedakan hasil riset pada akhirnya. Data atau
produk yang tak bisa dihasilkan oleh peneliti lain, bisa kita capai.
Dalam hal itu intelejensi saja tidak cukup. Kerja keras secara fisik
berperan cukup penting. Hasil kerja keras itulah yang secara perlahan
mengubah pandangan Sensei tentang saya.
Ada hal lain lagi, yang
juga tak terkait banyak dengan intelejensi, yaitu soal jaringan. Suatu
hari kami pergi menghadiri seminar di luar kota (Hiroshima). Waktu itu
karena saya baru beberapa bulan di Jepang, Sensei mengatur semua hal,
termasuk reservasi hotel. Ternyata ketika saya hendak check in di hotel
itu, nama saya tidak terdaftar, dan hotel sedang penuh. Melalui pengurus
PPI saya cari orang Indonesia yang sedang belajar di kota tersebut
dengan maksud minta dipandu mencari penginapan. Tapi akhirnya saya malah
diajak menginap di apartemen teman baru tadi. Ketika mendengar
pengalaman saya, Sensei geleng-geleng. “Network kalian orang Indonesia,
luar biasa.” pujinya. Tidak cuma sekali itu. Di lain waktu, usai seminar
di Tsukuba Sensei meminta saya memanggil taksi.
“
Tidak perlu Sensei, saya bawa mobil.”
“
Ha?? Mobil siapa?”
“Saya dipinjami teman Indonesia. Kebetulan mobilnya sedang tidak dipakai.”
Dia kembali tergeleng-geleng. “Saya yang orang Jepang tidak dapat
pinjaman mobil, kamu orang asing kok bisa begitu. Luar biasa.” katanya.
Di masa-masa setelah kejadian di Hiroshima tadi, saya tak lagi
tergantung pada Sensei. Saya urus sendiri setiap keperluan riset saya,
termasuk urusan perjalanan. Perjalanan adalah bagian penting dari riset,
baik dalam rangka seminar maupun melakukan eksperimen di lembaga lain.
Tidak cuma itu. Beberapa kali saya pergi presentasi hasil riset ke
konferensi internasional dengan dana yang saya usahakan sendiri melalui
berbagai research foundation. Adanya dana semacam ini pun tadinya tidak
diketahui oleh Sensei, saya yang memberi tahu dia. “Heran saya, kok kamu
lebih tahu soal Jepang daripada orang Jepang.” komentar dia.
“Jadilah orang yang independent, jangan dependent.” nasihat Sensei di
awal kedatangan saya. Itulah yang kemudian terjadi. Saya tidak menjadi
beban, bahkan kemudian mengurangi beban Sensei. Dua tahun berlalu, saat
saya tamat program master, saya sudah menjadi semacam asisten bagi
Sensei. Saya mengurusi dan merawat peralatan eksperimen, membimbing
mahasiswa yang lebih muda (orang Jepang), dan menangani berbagai tetek
bengek administrasi.
Ketika pensiun, dalam catatan akhirnya di
bulletin kampus, Sensei menyediakan paragraph pertama untuk memuji saya.
Sensei mungkin teringat pada kata-kata kasarnya pada pertemuan pertama
kami. Dua tiga tahun setelah itu, dia mencoba mengoreksi sikap itu.
“Kamu itu seumuran dengan anak saya. Orang tua itu punya sikap, bahwa
anak itu biar sudah dewasa sekalipun tetap dipandang seperti anak-anak.
Itu namanya oyagokoro (hati orang tua). Saya kadang memperlakukan dan
memarahi kamu seperti anak-anak, karena kamu itu anak saya.”
Pada
masa selanjutnya, yang terjadi hanyalah ulangan dari hal-hal yang saya
tulis di atas. Memasuki dunia industri, saya mulai dari pengetahuan nol
tentang segala sesuatu. Belajar, mencoba, adalah hal yang terus saya
lakukan hingga saat ini.
Begitulah. Ketika kita mulai sesuatu,
mungkin orang tak melihat kemampuan kita. Mungkin kita diremehkan. Untuk
menjawabnya kita hanya perlu menunjukkan hasil kerja. Dan untuk
mencapai hasil kerja yang baik, tak hanya dibutuhkan kemampuan
profesional atau hard skill. Tapi juga dibutuhkan kemampuan lain, yang
biasa disebut soft skill. Dan kemauan untuk bekerja keras, mencoba
terus, tanpa kenal menyerah. Dalam banyak hal, kita mungkin harus
mengerjakan pekerjaan sepele yang sepertinya tak penting. Seperti saya
harus kerja rodi dalam riset. Itupun harus kita kerjakan.
Orang
yang merasa mentereng karena ia seorang sarjana dan karenanya tidak
perlu lagi mengerjakan pekerjaan sepele, besar kemungkinan akan jadi
orang yang gagal. Soerang sarjana baru punya sangat sedikit bekal. Ia
masih perlu belajar lebih banyak lagi, termasuk dari hal-hal yang
kelihatannya sepele.
copas dari:
http://abdurakhman.com/untuk-wisudawan/