Halaman

Sabtu, 30 April 2016

reminder oktober 2001

reminder

ingatkah ikam masih begaji 500rb/sebulan bisa memberi makan 6 orang dan menyekolahkan 4 orang ading ikam sampai lulus, walau kada bisa nebus resep obat gasan abahmu?

hari ini ada yang menantangmu sedang keadaanmu lebih baik dari saat itu

Selasa, 19 April 2016

MENGAPA SAYA TIDAK BERPARTAI ?

MENGAPA SAYA TIDAK BERPARTAI ?

1. Karena berpartai akan memisahkan kita.
Firman Allah Swt : "Sesungguhnya (agama tauhid) ini, adalah agama kamu semua, agama yang satu dan Aku adalah Tuhanmu, maka bertakwalah kepada-Ku. Kemudian mereka menjadikan agama mereka terpecah belah menjadi beberapa pecahan. Tiap-tiap golongan merasa bangga dengan apa yang ada pada sisi mereka (masing-masing)". (Qs. Al Mukminun : 52-53)

2. Karena berpartai menjadikan aku serupa dengan sifat kaum musyrikin.
Firman Allah : " Janganlah kamu termasuk orang-orang yang mempersekutukan Allah, yaitu orang-orang yang memecah belah agama mereka dan mereka menjadi beberapa golongan. Tiap-tiap golongan merasa bangga dengan apa yang ada pada golongan mereka." (Qs. Ar-Rum: 31-32)

3. Karena jika aku berpartai, Allah Swt akan berlepas dariku.
Firman Allah : " Sesungguhnya orang-orang yang memecah belah agamanya dan mereka (terpecah) menjadi beberapa golongan, tidak ada sedikit pun tanggung jawabmu terhadap mereka". (Qs. Al-An'am : 159)

4. Karena jika aku berpartai, aku akan keluar (menjauh) dari rahmat Allah.
Firman Allah : " tetapi mereka senantiasa berselisih. Kecuali orang-orang yang diberi rahmat oleh Tuhanmu". (Qs. Huud : 118)

5. Karena dengan berpartai-partai, aku akan meyebarkan perpecahan dan perselisihan.
Firman Allah : " Dan janganlah kamu menyerupai orang-orang yang bercerai-berai dan berselisih sesudah datang keterangan yang jelas kepada mereka. Mereka itulah orang-orang yang mendapat siksa yang berat". (Qs. Ali Imran : 105)

6. Karena dengan berpartai-partai, aku akan keluar dari jalan yang lurus ( Shirathal Mustaqim) ke jalan –jalan yang menyimpang.
Firman Allah : dan bahwa (yang Kami perintahkan) ini adalah jalan-Ku yang lurus, maka ikutilah dia; dan janganlah kamu mengikuti jalan-jalan (yang lain), karena jalan-jalan itu mencerai-beraikan kamu dari jalan-Nya. Yang demikian itu diperintahkan Allah kepadamu agar kamu bertakwa." (Qs. Al-An'am : 153)

7. Karena dengan berpartai, aku membuat nama bukan dengan nama yang telah diberikan Tuhanku.
Firman Allah : " Dia (Allah) telah menamai kamu sekalian "orang-orang muslim" (dengan nama "Muslimin"). (Qs. Al Haj : 78)

8. Karena dengan berpartai-partai, aku menyimpang dari firman Tuhanku.

Firman Allah : " Siapakah yang lebih baik perkataannya daripada orang yang menyeru kepada Allah, mengerjakan amal yang saleh dan berkata: "Sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang berserah diri?" (Qs. Fushilat : 33).

9. Karena dengan berpartai-partai, Aku akan mengikatkan loyalitas dan antiloyalitas ( Al wala wal barra) kepada tokoh-tokoh tertentu. (dengan berbaiat kpd mereka).
Firman Allah : " Sesungguhnya pemimpin kamu hanyalah Allah, Rasul-Nya, dan orang-orang yang beriman, yang mendirikan salat dan menunaikan zakat, seraya mereka tunduk (kepada Allah). (Qs. Al Maidah : 55).

10. Karena dengan berpartai-partai, aku akan punya gelar tersendiri, demikian juga engkau. Dan akhirnya datanglah masa saling memanggil dengan gelar-gelar (sebutan-sebutan yg buruk).
Firman Allah : " Dan janganlah kamu panggil memanggil dengan gelar-gelar yang buruk. Seburuk-buruk panggilan ialah (panggilan) yang buruk sesudah iman dan barang siapa yang tidak bertobat, maka mereka itulah orang-orang yang lalim. (Qs. Al Hujurat: 11).

11. Karena dengan berpartai-partai, aku akan membatasi dan menyempitkan ruang dakwah kepada agama Allah, dan aku mengkerdilkan Islam dalam bentuk partai.
Firman Allah : " Sesungguhnya agama (yang diridai) di sisi Allah hanyalah Islam." (Qs. Ali Imran : 19).
Dan firman-Nya : " Dan telah Ku-ridai Islam itu jadi agama bagimu". (Qs. Al Maidah: 3) Allah tidak mengatakan : "Aku ridai sebagai partai".

12. Karena dengan berpartai-partai, aku akan menghancurkan hubungan ukhuwah Islamiyah denganmu.
Firman Allah : " Sesungguhnya orang-orang mukmin adalah bersaudara." (Qs. Al Hujurat : 10). Dan berpartai-partai sama dengan mengajak kepada persaudaraan di luar persaudaraan Islam; dan itu berarti membuat pengecualian dari sesuatu yang umum dengan tanpa dalil yang dibenarkan.

13. Karena dengan masuk ke dalam partai, aku telah berubah syiar (slogan/motto) Islam Yaitu " La Ilaha Illallah Muhammad Rasulullah" dengan slogan/ motto partaiku.
Sementara Allah berfirman : " Maukah kamu mengambil sesuatu yang rendah sebagai pengganti yang lebih baik? (Qs. Al Baqarah : 61)

14. Karena berpartai akan menumbuhkan rasa superioritas dalam bidang wawasan dan organisasi, sehingga mereka (yg berpartai-partai) akan memandang rendah orang lain.
Sementara Allah berfirman : Hai orang-orang yang beriman janganlah suatu kaum mengolok-olok kaum yang lain (karena) boleh jadi mereka (yang diolok-olok) lebih baik dari mereka (yang mengolok-olok)". (Qs. Al Hujurat : 11).

15. Karena dengan berpartai, aku akan bersikap fanatik terhadap pemimpin dan ulama partaiku baik dalam perkara yang hak maupun yang batil.
Firman Allah : " Mereka menjadikan orang-orang alimnya, dan rahib-rahib mereka sebagai tuhan selain Allah." (Qs. At-Taubah : 31)

16. Karena kepartaian dibentuk untuk mengumpulkan suara demi kepentingan partai, oleh karena itu maka di antara prinsip-prinsip partai adalah " Hendaknya kita saling membantu dalam hal yang kita sepakati dan saling menghormati dalam hal yang tidak kita sepakati". Dan ini bertentangan dengan firman Allah : " Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang makruf dan mencegah dari yang munkar; merekalah orang-orang yang beruntung. (Qs. Ali Imran : 104)

17. Karena partai membuat syarat dan prinsip-prinsip yang bertentangan dengan Al Quran dan Sunnah. Dan Rasulullah SAW pernah bersabda: " Mengapa ada orang yang membuat syarat yang tidak terdapat dalam kitabullah ? Syarat apapun yang tidak terdapat dalam kitabullah maka itu adalah batil, meskipun 100 syarat." (HR. AL Bukhari).

18. Karena kepartaian adalah sesuatu yang diciptakan (muhdats) sepeninggal Rasulullah SAW dan para sahabat. Sementara Rasulullah SAW bersabda : " Barang siapa mengerjakan suatu amalah yang tidak kami perintahkan, maka tertolak". (HR. Muslim).

19. Karena partai jelas-jelas bertentangan dengan sabda Nabi SAW : "Tiada perjanjian persekutuan dalam Islam". (HR. Al Bukhari).

~KARENA SEBAB-SEBAB DI ATASLAH, SAYA TIDAK BERPARTAI~

Rabu, 30 Maret 2016

Untuk Wisudawan


Salah satu momen yang membuat saya bangga sebagai alumni UGM adalah ketika Sensei (profesor pembimbing) datang kepada saya dan berkata, “Grup riset kita diberi jatah untuk mendatangkan mahasiswa asing dengan beasiswa Monbusho. Kita diberi wewenang untuk memilih siapa saja yang kita anggap pantas dan layak. Seleksi di universitas hanyalah formalitas. Saya limpahkan wewenang itu kepada kamu, dan saya minta kamu memilih alumni UGM untuk kita undang. Ya, alumni UGM seperti kamu. Saya ingin lebih banyak lagi pekerja keras seperti kamu di grup kita.” Sebagai respon, saya kontak adik kelas saya di FMIPA UGM, kemudian dia memenuhi undangan kami. Kini dia sudah selesai kuliah di program doktor dan menjadi dosen di suatu PTN di Jawa Tengah.
Saat itu saya sudah lulus program doktor dan bekerja sebagai visiting researcher di bawah bimbingan Sensei, di Kumamoto University, Jepang. Saat itu sudah enam tahun lebih saya berinteraksi dengan beliau. Masa yang cukup panjang. Saat itu adalah titik diametral bila dibandingkan dengan saat saya pertama kali bertemu untuk mulai kerja riset di bawah bimbingan Sensei.

Kata-kata Sensei yang pertama saya dengar setelah kami berbasa-basi berkenalan adalah, “Tolong kamu kerja keras di sini. Jangan bawa-bawa budaya tropis kamu ke sini.”
Maksud Sensei bagaimana? Budaya tropis itu apa?” tanya saya tak paham.
Kalian orang-orang tropis itu kan pemalas. Makanya kalian tertinggal. Lihat kami orang Jepang, Korea, dan Cina. Apa yang kamu lihat di depanmu saat ini, kemajuan ekonomi dan teknologi, semua ini tidak gratis. Kami memperolehnya dengan kerja keras. Tirulah cara kerja kami.”

Tentu saja saya tersinggung dengan ucapan itu. Tapi saya memilih diam. Karena saya tahu, percuma berdebat dengan kata-kata. Perbuatan akan lebih meyakinkan. Maka saya tunjukkan kepada Sensei bahwa saya bukan pemalas. Butuh waktu yang panjang ketika akhirnya dia mengakui kerja keras saya. Dan dia tidak hanya melihat saya sebagai sosok pribadi. Dia memandang saya sebagai alumni UGM. Bahkan, dia memandang saya sebagai orang Indonesia. Kehadiran saya teleh mengubah pandangan Sensei tentang orang Indonesia.
Situasi yang saya hadapi saat pertama kali bertemu Sensei mungkin akan dihadapi oleh banyak orang saat akan mulai sesuatu. Termasuk di antaranya yang baru lulus. Lalu mereka akan menempuh perjalanan untuk membuktikan diri, sampai mendapat pengakuan. Ada yang butuh waktu sangat lama, ada yang lebih singkat. Tapi apapun juga, hanya pekerja keras dan pantang menyerah yang bisa lolos dari tantangan ini.

Kerja keras. Hanya itulah yang saya miliki saat itu. Kebetulan saya bukan mahasiswa yang sangat cerdas. Saya bukan orang brilliant. Menariknya, dalam kultur Jepang tata krama dan kerja keras lebih dihargai ketimbang kecerdasan belaka. Kerja riset itu sendiri, di samping membutuhkan kecerdasan, juga membutuhkan kreativitas. Tapi di atas itu semua, kerja keras memang paling menentukan.

Beberapa bagian dari kerja riset itu mirip kerja rodi. Saya misalnya bekerja dengan alat yang disebut diamond anvil cell, yang mengharuskan saya menempatkan sampel di dalam ruang berdiameter kurang dari 0.3 mm. Di situ kecerdasan tak banyak berperan. Hanya ketekunanlah yang berarti. Berbulan-bulan melatih tangan, barulah hal itu bisa dilaksanakan. Periset lainpun begitu. Ada yang menghabiskan waktu berhari-hari kerja nyaris tanpa henti untuk menumbuhkan kristal. Tidur di laboratorium, makan dan istirahat seadanya adalah hal yang biasa. Tak ada orang lain yang bisa disuruh untuk melakukan pekerjaan-pekerjaan “sepele” itu. Peneliti sendiri yang harus melakukannya. Justru di situlah kunci sukses seorang peneliti. “Kenkyusha no ude”, hasil kerja tangan setiap peneliti, itulah yang membedakan hasil riset pada akhirnya. Data atau produk yang tak bisa dihasilkan oleh peneliti lain, bisa kita capai. Dalam hal itu intelejensi saja tidak cukup. Kerja keras secara fisik berperan cukup penting. Hasil kerja keras itulah yang secara perlahan mengubah pandangan Sensei tentang saya.

Ada hal lain lagi, yang juga tak terkait banyak dengan intelejensi, yaitu soal jaringan. Suatu hari kami pergi menghadiri seminar di luar kota (Hiroshima). Waktu itu karena saya baru beberapa bulan di Jepang, Sensei mengatur semua hal, termasuk reservasi hotel. Ternyata ketika saya hendak check in di hotel itu, nama saya tidak terdaftar, dan hotel sedang penuh. Melalui pengurus PPI saya cari orang Indonesia yang sedang belajar di kota tersebut dengan maksud minta dipandu mencari penginapan. Tapi akhirnya saya malah diajak menginap di apartemen teman baru tadi. Ketika mendengar pengalaman saya, Sensei geleng-geleng. “Network kalian orang Indonesia, luar biasa.” pujinya. Tidak cuma sekali itu. Di lain waktu, usai seminar di Tsukuba Sensei meminta saya memanggil taksi.

Tidak perlu Sensei, saya bawa mobil.

Ha?? Mobil siapa?

“Saya dipinjami teman Indonesia. Kebetulan mobilnya sedang tidak dipakai.”
Dia kembali tergeleng-geleng. “Saya yang orang Jepang tidak dapat pinjaman mobil, kamu orang asing kok bisa begitu. Luar biasa.” katanya.
Di masa-masa setelah kejadian di Hiroshima tadi, saya tak lagi tergantung pada Sensei. Saya urus sendiri setiap keperluan riset saya, termasuk urusan perjalanan. Perjalanan adalah bagian penting dari riset, baik dalam rangka seminar maupun melakukan eksperimen di lembaga lain. Tidak cuma itu. Beberapa kali saya pergi presentasi hasil riset ke konferensi internasional dengan dana yang saya usahakan sendiri melalui berbagai research foundation. Adanya dana semacam ini pun tadinya tidak diketahui oleh Sensei, saya yang memberi tahu dia. “Heran saya, kok kamu lebih tahu soal Jepang daripada orang Jepang.” komentar dia.

“Jadilah orang yang independent, jangan dependent.” nasihat Sensei di awal kedatangan saya. Itulah yang kemudian terjadi. Saya tidak menjadi beban, bahkan kemudian mengurangi beban Sensei. Dua tahun berlalu, saat saya tamat program master, saya sudah menjadi semacam asisten bagi Sensei. Saya mengurusi dan merawat peralatan eksperimen, membimbing mahasiswa yang lebih muda (orang Jepang), dan menangani berbagai tetek bengek administrasi.
Ketika pensiun, dalam catatan akhirnya di bulletin kampus, Sensei menyediakan paragraph pertama untuk memuji saya. Sensei mungkin teringat pada kata-kata kasarnya pada pertemuan pertama kami. Dua tiga tahun setelah itu, dia mencoba mengoreksi sikap itu. “Kamu itu seumuran dengan anak saya. Orang tua itu punya sikap, bahwa anak itu biar sudah dewasa sekalipun tetap dipandang seperti anak-anak. Itu namanya oyagokoro (hati orang tua). Saya kadang memperlakukan dan memarahi kamu seperti anak-anak, karena kamu itu anak saya.”

Pada masa selanjutnya, yang terjadi hanyalah ulangan dari hal-hal yang saya tulis di atas. Memasuki dunia industri, saya mulai dari pengetahuan nol tentang segala sesuatu. Belajar, mencoba, adalah hal yang terus saya lakukan hingga saat ini.

Begitulah. Ketika kita mulai sesuatu, mungkin orang tak melihat kemampuan kita. Mungkin kita diremehkan. Untuk menjawabnya kita hanya perlu menunjukkan hasil kerja. Dan untuk mencapai hasil kerja yang baik, tak hanya dibutuhkan kemampuan profesional atau hard skill. Tapi juga dibutuhkan kemampuan lain, yang biasa disebut soft skill. Dan kemauan untuk bekerja keras, mencoba terus, tanpa kenal menyerah. Dalam banyak hal, kita mungkin harus mengerjakan pekerjaan sepele yang sepertinya tak penting. Seperti saya harus kerja rodi dalam riset. Itupun harus kita kerjakan.
Orang yang merasa mentereng karena ia seorang sarjana dan karenanya tidak perlu lagi mengerjakan pekerjaan sepele, besar kemungkinan akan jadi orang yang gagal. Soerang sarjana baru punya sangat sedikit bekal. Ia masih perlu belajar lebih banyak lagi, termasuk dari hal-hal yang kelihatannya sepele.

copas dari: http://abdurakhman.com/untuk-wisudawan/ 

Selasa, 09 Februari 2016

Kepemimpinan di Perguruan Tinggi

Ada sementara fakta dari dunia perguruan tinggi sendiri, bahwa bukan kepemimpinan kharismatik yang sangat diperlukan untuk mewujudkan manajemen yang efektif. Justru beberapa penelitian menerangkan dengan gamblang bahwa dalam “sistem aktivitas yang terdistribusi” yakni pada kondisi dan titik di mana pengambilan keputusan bersifat tersebar (Jarzabkowski: 2003).

Dengan kata lain, kepemimpinan individual tidak berpengaruh banyak untuk menggapai kesuksesan perguruan tinggi. Yang justru diperlukan adalah budaya organisasi (organizational culture) yang mendorong kesadaran akan samanya tujuan; yang mengundang adanya debat ketat nan menarik guna terwujudnya sebuah keputusan yang dilaksanakan dalam skala waktu yang tepat.

Dengan demikian, manajemen sentral boleh saja menginisiasi kebijakan namun tugas yang lebih penting adalah mengkordinasi serta merespon proposal strategis terkait yang diajukan dari bawah. Karena memang sejatinya, strategi lahir dalam lingkungan yang mendorong ide-ide segar. Makanya, manajemen strategis adalah tentang pengisian bahan bakar dan “menampi” proses ini dengan memastikan bahwa ide-ide yang harus didukung relevan dan konsisten dengan kerangka tujuan kelembagaan yang sudah mapan. Perguruan tinggi yang baik mendorong iklim inovasi dan pengembangan, di mana insiasi dan ide baru didukung dan dihargai. Dalam manajemen strategis, iklim kompetisi adalah tentang menciptakan kesuksesan bukan tentang menopang status quo.

Searah dengan itu, perguruan tinggi mesti melaksanakan tugas dan fungsinya secara efektif dan efisien. Secara lebih elaboratif, perlu disadari paradigma pembinaan aparatur perguruan tinggi pun kian bergeser pada tiga ranah sekaligus: (1) kemandirian (autonomy), (2) akuntabilitas (accountability), dan (3) jaminan kualitas (quality assurance).

Dalam al-Qur’an sendiri, disebutkan tiga hal ini. Yang pertama, kemandirian. Nilai kemandirian misalnya dapat kita dapatkan dalam surah al-dhuha. Kalau ingin sedikit dielaborasi, surah ini mengajarkan nilai kemandirian yang bersumber pada nilai tauhid kepada Allah. Nilai inilah yang melahirkan al-Dhuha (giatnya kerja) demi kemandirian.

Sementara, akuntabilitas tentu sangatlah penting. Dalam al-Quran kata-kata sepadan yang menunjukkan arti akuntabilitas dapat diwakili oleh dua kata: “amin” dan “hafiizh”.

Bila kita melihat perguruan-perguruan tinggi yang melorot prestasinya, kita akan menemukan di dalamnya struktur bagian yang kaku, kegagalan untuk mengenali dinamika lingkungan yang selalu berubah, hirarki dan proses pengambilan keputusan yang konservatif dan keengganan untuk bersaing.( (Copas H. Akh. Fauzi Aseri) Referensi hipotesa....

sumber: https://www.facebook.com/ekawati.yulsilviana/posts/10205824708764718?fref=nf

Minggu, 29 November 2015

Mata Uang Baru Itu Bernama Data

Mata Uang Baru Itu Bernama Data (copas grup sebelah)

Di tahun 2004-2007 Google disibukkan dengan rencana mengembangkan bisnis mereka ke bidang telepon selular (ponsel). Google telah memprediksi bahwa ponsel adalah masa depan komputasi. Sehingga mereka ingin memproduksi ponsel untuk menyaingi para raksasa saat itu: Nokia, Blackberry, Sony Ericsson dan Motorola. Ditambah, Google mengendus bahwa Apple akan segera merilis ponsel revolusioner yang kini kita kenal dengan nama iPhone.
Memproduksi ponsel bukan hanya soal menciptakan perangkat kerasnya (hardware), tapi juga sistem operasinya (operating system-OS). OS ponsel saat itu hanya 3: Symbian, Microsoft Mobile dan Blackberry. Hanya Symbian yang open source. Namun pengembangan Symbian oleh Symbian Foundation dibiayai oleh Sony Ericsson, Samung, Motorola dan Nokia. Kalau Google ikut ke Symbian, sama juga bohong.
Bukan Google kalau tidak berpikir out of the box. Dalam sebuah rapat, CEO Google Eric Schmidt berkata, "Kita tidak akan membuat ponsel. Tapi membuat sesuatu yang akan digunakan di semua ponsel." Artinya, alih-alih memproduksi brand baru ponsel untuk menyangi brand lain, Google akan menciptakan OS yang bisa dipergunakan semua ponsel di seluruh dunia.
Hoki Google sedang terang. Tahun 2005 mereka dipertemukan dengan Andy Rubin, pengembang OS Android, yang sedang kekurangan duit. Google membeli Android sekaligus Rubin sebesar $50 juta. Android adalah OS ponsel berbasis Linux yang open source dan gratis. Dengan Android sebagai senjata, Google memulai perangnya di bisnis ponsel dan kini berhasil menjatuhkan para raksasa lama. Diluncurkan resmi tahun 2010, kini Android adalah OS ponsel yang paling banyak digunakan di dunia. Ia terpasang di 1,6 miliar lebih ponsel, melampaui iOS dengan 628 juta. Karena Android lah sekarang kita bisa menikmati smart phone dengan harga bahkan di bawah Rp1 juta. Karena ia gratis sehingga setiap produsen smart phone bisa menekan biaya produksi serendah-rendahnya. Karena Android bermunculan produsen smart phone, termasuk di dalam negeri. Bahkan demi Android, Google membeli Motorola (yang beberapa waktu lalu dijual lagi).
Kalau Android gratis, darimana Google untung?
ERA KAPITALISASI DATA
Ponsel adalah perangkat komputasi yang sudah jadi bagian hidup sehari-hari orang banyak. Hadapi kenyataan ini: ponsel anda lebih tahu siapa anda dibandingkan diri anda sendiri.
Ponsel adalah mesin tambang emas. Emas itu adalah data anda. Data ini tidak sekedar nama, gender, usia dan lokasi yang datanya anda masukkan ketika registrasi akun untuk mengakses Android (atau iPhone). Google tahu hobi dan perilaku anda dari aplikasi yang anda install dari Playstore. Mereka bisa secara presisi tahu lokasi anda dan tempat-tempat yang anda kunjungi lewat GPS untuk membaca minat anda.
Semua situs yang anda kunjungi lewat ponsel akan terekam dan dibaca datanya untuk mengidentifikasi ketertarikan anda. Lewat email yang masuk ke ponsel, Google bisa tahu pekerjaan, relasi dan minat. Bahkan, bila anda sudah memakai Google Wallet yang bisa digunakan sebagai alat pembayaran ke mesin EDC dengan cara tapping, Google tahu berapa pengeluaran anda dan dimana anda berbelanja.
Data-data ini masih ditambah dengan data yang mereka dapatkan ketika anda menggunakan perangkat komputasi lain, PC contohnya. Kebetulan browser paling banyak dipakai adalah Google Chrome yang disinkronkan dengan akun Google anda. Situs apa yang anda kunjungi, berapa lama anda bertahan di situs tersebut, aktivitas apa yang anda lakukan, Google tahu. Mungkin terdengar mengerikan, tapi itulah kenyataanya.
Apa yang akan Google lakukan ketika semua data kita (dan miliaran user lain) mereka pegang? Menjual data itu ke pengiklan.
Google adalah biro iklan terbesar di planet ini. Nama produknya adalah Adsense. Pendapatan Google dari Adsense tahun 2014 adalah $59 miliar atau Rp826 triliun. Hampir separuh APBN Indonesia 2014 yang sebesar Rp1.800 triliun itu.
Bagaimana data-data itu bisa berguna bagi pengiklan? Setiap pengiklan atau pemilik brand ingin agar setiap iklannya disaksikan oleh calon konsumen yang sesuai dengan target pasar mereka. Misal, brand mobil akan sia-sia mengiklankan diri mereka kepada orang yang beli sepeda motor pun tak sanggup. Karena periklanan konvensional tak bisa memenuhi kebutuhan micro targeting, maka dilakukankan periklanan dalam bentuk broadcast. Memasang billboard tepi jalan misalnya. Misal, dari 1 juta orang yang melihat iklan itu per hari, hanya 30% yang mampu beli mobil, atau hanya 10% yang sedang berencana beli mobil. 70% sisanya sia-sia. Bila tarif memasang iklan tepi jalan itu Rp300 juta/bulan dan hanya bisa mendatangkan 100 pembeli/konsumen, maka nilai akusisinya adalah Rp3 juta per konsumen. Alangkah mahalnya.
Mahalnya nilai akuisisi ini karena pengiklan turut menghabiskan uangnya menampilkan iklan kepada audien yang bukan segmen pasar mereka. Ini bukan disengaja, tapi tak ada jalan keluar untuk micro targeting. Sampai Google menyediakan Adsense. Dengan Adsense, selain micro targeting, pengiklan bisa membayar sesuai kebutuhan. Misal, mereka hanya butuh iklan mereka disaksikan, maka bisa memilih cost per mile (CPM). Bila butuh audien mengklik, bisa memilih cost per click (CPC). Atau, kalau anda ingin baru membayar ketika konsumen bertransaksi di website anda, bisa memilih cost per acquisition (CPA).
Sampai di sini anda sudah tahu bagaimana data bisa dikapitalisasi, dikomersialisasi atau dimonetisasi sampai jumlah pendapatan super raksasa. Data ini didapatkan dari user, kita semua. Demi mendapatkan user, Google menyediakan berbagai platform gratis: mesin pencari, Android, Chrome, Youtube, Google+. Dan yang terakhir yang sedang ramai di Indonesia adalah Google Baloon, sebuah akses internet wifi gratis dari Google berbentuk balon. Bayangkan berapa user dan data yang bisa Google dapatkan dari balon itu.
Mau tak mau kita harus setuju dengan argumen ini: if something is free, then you're the product.
Yang membuat kapitalisasi data ini makin menarik adalah setiap orang bisa ikut untung. Setiap pemilik website, mobile app dan video di Youtube, bisa menyediakan tempat atau konten mereka sebagai tempat periklanan Adsense. Setiap orang bisa jadi media beriklan dan dapat pemasukan besar. Penyedia konten seperti Kompasiana, Detik, Kompas, Tribun, ikut menjadi rekanan Adsense. Pencipta game fenomenal Flappy Bird, meraup untung Rp608 juta per hari dari iklan Adsense yang ia tayangkan di game-nya. Atau seperti Yugianto, warga Desa Jamus di Karanganyar yang mendapatkan Rp40 juta/bulan dari kumpulan videonya di Youtube.
Yang melakukan ini bukan hanya Google, tapi juga Facebook yang memanfaatkan data usernya ke pengiklan Facebook. Kedua bersaing dalam mendapatkan user sebanyak-banyaknya agar makin banyak data sebagai 'emas' yang bisa digali. Maka tak heran bila dua entitas ini menjadi promotor utama dalam gerakan internet gratis. Makin murah atau gratis internet, makin banyak pula user yang mereka dapatkan dan otomatis makin banyak data yang bisa digali untuk kemudian dijual.
Begitu pentingnya data bagi bisnis digital dan sudah jadi mata uang baru, salah satu profesi yang paling seksi di era ini adalah data scientist atau ilmuwan data. Ainun Nadjib, penggagas KawalPemilu yang fenomenal itu kini bekerja sebagai data scientist di sebuah perusahaan digital di Jakarta.
Sampai di sini anda sudah memahami mengapa sebuah penyedia produk gratis bisa menghasilkan keuntungan raksasa dan jadi perusahaan paling kaya di planet ini.
MEMBAKAR UANG DEMI USER
Bila anda sering berkunjung atau berbelanja ke situs belanja online, khususnya Indonesia, akan sering ditemui barang dengan harga jauh lebih murah dibanding pasaran. Atau sering juga ada program promo yang menjual barang dengan diskon sampai 90%, bahkan 99%. Harga-harga yang sulit diterima akal. Kita yang awam ini akan berpikir harga bisa murah karena banyak biaya operasional yang dipangkas, atau sebuah brand produk sedang promosi di situs itu. Sebagian kecil benar, tapi sebagian besar salah.
Yang terjadi adalah pengelola toko online memberi subsidi kepada konsumen sejumlah selisih harga. Bila distributor memberi harga Rp1 juta kepada toko, dan toko menjual seharga Rp500 ribu kepada konsumen, maka toko nombok Rp500 ribu. Kalau ada 100 pembelian, maka toko nombok Rp50 juta.
Sebagai orang yang sering berpergian, saya selalu gunakan aplikasi pemesanan tiket pesawat dan hotel. Sumpah, ini bukan iklan, tapi namanya Traveloka. Saya pernah protes kepada pengelola hotel yang rajin saya inapi mengapa ia tak bisa memberi saya harga semurah Traveloka kalau saya go show (datang langsung). Ia jawab, harga kamar yang ia berikan ke Traveloka sama dengan harga kamar bila saya go show. Kalau harga Traveloka lebih murah, itu karena disubsidi atau ditomboki oleh Traveloka.
Lha, jualan kok nombok?
Kalau mau yang lebih aneh lagi, lihat Gojek. Mereka kabarnya telah mendapatkan investasi sedikitnya Rp200 miliar Sequoia Capital di pertengahan tahun tadi. Ada juga yang menyebut Rp600 miliar. Sampai sekarang Gojek masih rugi, terutama karena bonus referral. Kerugian keuangan Gojek ini dikonfirmasi oleh Nadiem Makarim, CEO Gojek. Dalam sebuah pertemuan pada Oktober lalu, Nadiem mengatakan, "Kami memang belum untung. Kalau kami untung justru kami dimarahi investor."
Investor kok tidak mau untung? Tidak masuk akal, kan?
Kalau mau yang lebih tidak masuk akal lagi, lihatlah Whatsapp. Messanger ini tidak menampilkan iklan, pun gratis tahun pertama. Biaya berlangganan di tahun berikutnya hanya $1/tahun. Itu pun bisa 'diakali' supaya gratis terus. Tapi tahun lalu Facebook membeli Whatsapp Rp222 triliun! Secara keuangan, perusahaan ini tidak pernah untung, tidak beriklan, tapi dibeli ratusan triliun.
Bisnis konvensional sulit memahami ini. Selama ini performace bisnis hanya diukur lewat angka di buku keuangan perusahaan. Kalau duitnya minus, berarti jelek. Namun dalam bisnis digital, data adalah mata uang baru. Pintu masuknya melalui jumlah user. Kalau kita sudah mendapatkan user, datanya akan siap untuk dikapitalisasi untuk apapun. Iklan hanya salah satunya. Artinya, kalau sudah punya banyak user, terserah mau kita manfaatkan untuk apapun agar menghasilkan uang. Jadi, dalam bisnis digital modal dalam bentuk uang lebih sebagai tool atau perangkat untuk mencapai target yang sebenarnya: user dan data.
Dalam startup (perusahaan rintisan) digital, hal seperti ini biasa disebut membakar uang demi mendapat user. Bukan hanya membakar lewat pemberian subsidi harga, tapi juga periklanan. Dengan investasi Rp1,2 triliun, Tokopedia bisa menempatkan iklannya di berbagai billboard Ibukota. Dengan modal Rp6,5 triliun, Mataharimall sanggup memberi diskon barang sampai 99%.
Dengan jumlah user yang banyak, valuasi atau nilai produk atau perusahaan digital otomatis akan naik. Whatsapp dengan 1 miliar pengguna dan 450 juta pengguna rutin bulanan, ketika baru dirilis tahun 2009 oleh Ian Koum hanya bermodal investasi $250 (iya, hanya $250). Dua tahun kemudian, Sequoia Capital menyuntik dana $80 juta. 2013, Sequoia menambah lagi investasi $50 juta ke Whatsapp. Sampai 2014 ia dibeli Facebook $19 miliar. Bayangkan betapa tajirnya pemilik saham Whatsapp seperti Koum dan Sequoia. Facebook 'membeli' setiap user Whatsapp seharga $42/user.
Bulan lalu saya bertemu dengan COO Kompasiana, Pepih Nugraha, di Jakarta. Beliau bertanya, "Kalau menurut hitungan Mas Hilman, berapa nilai Kompasiana?"
Anda akan terkejut dengan jawabannya. (*)

sumber: https://www.facebook.com/agfianto/posts/10206302323131796?fref=nf&pnref=story

Sabtu, 28 November 2015

Pembentukan Komunitas Informasi Masyarakat di Kampung Tenun ‪Samarinda

what
headline: pembentukan komunitas informasi masyarakat (KIM) daerah / kelurahan tenun, kecamatan samarinda seberang

where: rumah tua, jl. p. bendahara kelurahan tenun, kec. samarinda seberang

when: kamis, 26 nopember 2015 pukul 09.30 - 13.00 wite

why: meningkatkan "sadar wisata" dan melek it masyarakat, ==> output: terbentuknya KIM (terpilih sebagai ketua: Hj. Fatmawati, Wk. Ketua: Mawar (Dikenal dengan nama bunga rose), Sekretaris: Sumarni, Bendahara: Rafika

who:
fasilitator: Dinas Par dan kominfo kota samarinda,
narasumber: politeknik negeri samarinda (prodi wisata) & STMIK SPB / SMK TI Airlangga
peserta: penenun, pedagang sarung tenun samarinda. yang hadir: +/- 80 orang
tamu: bidang pariwisata prov kaltim (bpk. ardiansyah), camat samarinda seberang, lurah kampung tenun

How:
susunan acara: do'a, sambutan: camat samarinda seberang, pembukaan (oleh Ka dis par & kominfo kota samarinda diwakili oleh bu robiati), materi (ceramah n Tanya jawab), penutupan oleh bu robiati
materi: poltek ==> peran masyarakat menunjang usaha wisata, stmik spb: Internet Marketing for UKM

berita terkait:Ketua IKA STMIK SPB Airlangga Memberikan Materi Pada pembentukan KIM di Kampung Tenun ‪Samarinda

Minggu, 01 November 2015

Mencuci dalaman botol



atau download disini