Abu Huroirah rodhiyalLohu 'anhu berkata, _"RosululLoh shollalLohu 'alayhi wa sallam ditanya, "Amal apa yg utama?" Beliau mnjwb, "Beriman kpd Alloh & Rosul-Nya." Beliau kembali ditanya, "Lalu apa?" Beliau mnjwb, "Berjihad hanya karena Alloh " Beliau ditanya lagi, "Kebaikan apa setelah itu?" Beliau mnjwb, "Hajji Mabrur (yg diterima Alloh)."_
[HR.Bukhory, Muslim dlm Riyadhus Sholihin hadits 1285, bab Jihad]
Pilihlah pasangan hidup karena agamanya. Mgkn sj ia tak elok membaca al-Quran, tak faqih dlm syari'at tapi imannya tinggi hingga ia ridho berjihad di jalan Alloh. Pilihlah ia mendampingi dirimu, atau engkau tak akan pernah beruntung!
Bila telah hadir pasangan disisimu, tatap lembut matanya & katakan bhw engkau rindu istri/suami yg beriman kpd Alloh dan Rosul-Nya & ridho tuk berjihad di jalan Alloh bersamamu. Katakan demikian, agar ia mnjd istrimu/suamimu di Jannah atau do'a kan dirinya di hdpn Robb mu saat dunia berselimut malam.
Minggu, 23 Oktober 2016
Rabu, 21 September 2016
Taujih buat kami
بسم الله...
Semakin kita menshaleh dan menshalehakan diri di dunia bersama pasangan kita,
maka kesempatan hidup bersama di surga semakin besar..
Karena kematian pasti datang, maka saling menjadi #perantara kebaikan, pahala dan perantara hidayah selama hidup bersamanya..
Jika hanya berpikir 'Cinta Sehidup Semati' bersama di dunia dan berpisah dalam kematian..
Maka apalah artinya sebuah #pernikahan yg di dunia dilimpahi bergelimang harta dan keromantisan semu..?
Namun tidak terbersit usaha dalam membangun rumah tangga #abadi bersama di Surga..
#Tumbuhkanlah Cinta, karena pasangan yg selalu bertambah karena keshaleh/keshalehaanya..
Bukan hal-hal yg bersifat nafsu, harta dan keduniaan..
Katakan padanya..
"Semakin shaleh/shaleha dirimu, semakin cintalah aku padamu karena Allah, karena aku ingin bersamamu sampai Surga"
Yang lagi menunggu datangnya calon penyempurna agama, di Aamiin kan juga ya.. biar ketularan berkahnya..
Semakin kita menshaleh dan menshalehakan diri di dunia bersama pasangan kita,
maka kesempatan hidup bersama di surga semakin besar..
Karena kematian pasti datang, maka saling menjadi #perantara kebaikan, pahala dan perantara hidayah selama hidup bersamanya..
Jika hanya berpikir 'Cinta Sehidup Semati' bersama di dunia dan berpisah dalam kematian..
Maka apalah artinya sebuah #pernikahan yg di dunia dilimpahi bergelimang harta dan keromantisan semu..?
Namun tidak terbersit usaha dalam membangun rumah tangga #abadi bersama di Surga..
#Tumbuhkanlah Cinta, karena pasangan yg selalu bertambah karena keshaleh/keshalehaanya..
Bukan hal-hal yg bersifat nafsu, harta dan keduniaan..
Katakan padanya..
"Semakin shaleh/shaleha dirimu, semakin cintalah aku padamu karena Allah, karena aku ingin bersamamu sampai Surga"
Yang lagi menunggu datangnya calon penyempurna agama, di Aamiin kan juga ya.. biar ketularan berkahnya..
Minggu, 18 September 2016
Jumat, 16 September 2016
MEREKA BERTANYA MANA KESAKSIAN BAHWA ITU KHALIFAH
MEREKA BERTANYA MANA KESAKSIAN BAHWA ITU KHALIFAH
Banyak sekali dikalanggan umat Islam yang sangsi terhadap Imaam Jama'ah Muslimin (Hizbullah) BAHWA ITU KHALIFAH
Diantara ke sangsiannya,antara lain:
>Seandainya itu khalifah mana maklumatnya.
>Seandainya itu khalifah mana kekuasaannya.
>Seandainya itu khalifah mana sanadnya.
>Seandainya itu khalifah mana eksistensinya.
>Seandainya itu khalifah mana pengakuannya dari negri muslim lainya.
>Seandainya itu khalifah ulama mana yang mengakuinya, dan lain sebagainya.
Banyak sekali dikalanggan umat Islam yang sangsi terhadap Imaam Jama'ah Muslimin (Hizbullah) BAHWA ITU KHALIFAH
Diantara ke sangsiannya,antara lain:
>Seandainya itu khalifah mana maklumatnya.
>Seandainya itu khalifah mana kekuasaannya.
>Seandainya itu khalifah mana sanadnya.
>Seandainya itu khalifah mana eksistensinya.
>Seandainya itu khalifah mana pengakuannya dari negri muslim lainya.
>Seandainya itu khalifah ulama mana yang mengakuinya, dan lain sebagainya.
Wajar mereka merasa sangsi terhadap Imaam atau khalifah Jama'ah
Muslimin (Hizbullah),tetapi di masa Nubuwah pun banyak yang sangsi
terhadap eksistensi Nabi.
Yang kita khawatirkan, kalau kita seandainya hidup di masa Nubuwah jangan-jangan menjadi orang yang sangsi ingkar terhadap Nabi, nauzubillah Mindzalik.
Karena di masa Nubuwah pun terjadi polemik semacam ini
Di mana para pembesar Mekah datang kepada Nabi, mereka bertanya:
>Siapa yang menjadi saksi bahwa engkau itu Nabi ?
>Kami bertanya kepada agama Adigdaya Millah Isra'il Yahudi dan Nasrani penguasa Bizantium, bahwa kamu tidak ada pada mereka
Maka apa jawaban Nabi saw ?
Katakanlah: "Siapakah yang lebih kuat persaksiannya?" Katakanlah: "Allah". Dia menjadi saksi antara aku dan kamu. Dan Al Quran ini diwahyukan kepadaku supaya dengan dia aku memberi peringatan kepadamu dan kepada orang-orang yang sampai Al-Quran (kepadanya). Apakah sesungguhnya kamu mengakui bahwa ada tuhan-tuhan lain di samping Allah?" Katakanlah: "Aku tidak mengakui". Katakanlah: "Sesungguhnya Dia adalah Tuhan Yang Maha Esa dan sesungguhnya aku berlepas diri dari apa yang kamu persekutukan (dengan Allah)" (QS Al-An-Am ayat 19)
Inilah jawaban dari polemik-polemik yang sangsi terhadap tegaknya khalifah hari ini,bahwa yang menjadi saksi yang menjadi sah nya khalifah Jama'ah Muslimin (Hizbullah) hari ini cukuplah Allah dan Al-Qur'an yang memberi petunjuk,artinya cukup dalil-dalil Al-Qur'an dan Al-Hadist yang landing dengan tegaknya khalifah ini, bukan eksistensi atau pengakuan negri-negri Adigdaya Amerika dan sekutunya dan lain sebagainya.
Wallahu 'alam bisshowab
Yang kita khawatirkan, kalau kita seandainya hidup di masa Nubuwah jangan-jangan menjadi orang yang sangsi ingkar terhadap Nabi, nauzubillah Mindzalik.
Karena di masa Nubuwah pun terjadi polemik semacam ini
Di mana para pembesar Mekah datang kepada Nabi, mereka bertanya:
>Siapa yang menjadi saksi bahwa engkau itu Nabi ?
>Kami bertanya kepada agama Adigdaya Millah Isra'il Yahudi dan Nasrani penguasa Bizantium, bahwa kamu tidak ada pada mereka
Maka apa jawaban Nabi saw ?
Katakanlah: "Siapakah yang lebih kuat persaksiannya?" Katakanlah: "Allah". Dia menjadi saksi antara aku dan kamu. Dan Al Quran ini diwahyukan kepadaku supaya dengan dia aku memberi peringatan kepadamu dan kepada orang-orang yang sampai Al-Quran (kepadanya). Apakah sesungguhnya kamu mengakui bahwa ada tuhan-tuhan lain di samping Allah?" Katakanlah: "Aku tidak mengakui". Katakanlah: "Sesungguhnya Dia adalah Tuhan Yang Maha Esa dan sesungguhnya aku berlepas diri dari apa yang kamu persekutukan (dengan Allah)" (QS Al-An-Am ayat 19)
Inilah jawaban dari polemik-polemik yang sangsi terhadap tegaknya khalifah hari ini,bahwa yang menjadi saksi yang menjadi sah nya khalifah Jama'ah Muslimin (Hizbullah) hari ini cukuplah Allah dan Al-Qur'an yang memberi petunjuk,artinya cukup dalil-dalil Al-Qur'an dan Al-Hadist yang landing dengan tegaknya khalifah ini, bukan eksistensi atau pengakuan negri-negri Adigdaya Amerika dan sekutunya dan lain sebagainya.
Wallahu 'alam bisshowab
Jumat, 19 Agustus 2016
Doa dan Shalat Sunnah di Malam Pertama
Assalamu’alaikum wr wb
Ustad, insyaAllah sebentar lagi saya menikah. Ada dua hal yang ingin saya tanyakan berkenaan dengan malam pertama (maaf jika pertanyaannya terlalu vulgar)
Waalaikumussalam Wr Wb
Doa Ingin Berjima’
Dari Ibnu Abbas berkata.”Rasulullah saw bersabda,’Seandainya seorang dari kalian ingin mendatangi keluarganya (hendaklah dia ) berdoa : Allahumma Jannibnasy Syaithon wa Jannibisy Syaithon Maa Rozaqtanaa (Wahai Allah jauhilah kami dari setan dan jauhilah setan dari kami terhadap rezeki yang Engkau berikan kepada kami). Sesungguhnya jika dikehendaki diantara mereka berdua seorang anak saat itu maka setan tidaklah dapat mencelakakannya selamanya.” (Muttafaq Alaihi)
Ash Shan’aniy mengatakan bahwa ini merupakan lafazh dari Imam Muslim. Hadits ini merupakan dalil agar berdoa sebelum berhubungan dengan istri ketika muncul keinginan untuk itu. Riwayat ini menafsirkan riwayat ,”Seandainya seorang dari kalian berdoa saat mendatangi istrinya—dikeluarkan oleh Bukhori—bahwasanya maksud dari saat adalah ingin. Kata ganti dari jannibna adalah untuk laki-laki (suami) dan perempuan (istri). (Subul as Salam juz III hal 273)
Jadi doa tersebut dibaca seseorang ketika hendak menggauli istrinya sebelum berbagai muqoddimah (permainan) jima’ dilakukan.
Mendoakan Istri dan Shalat Dua Rakaat Setelah Ijab Kabul
DIanjurkan bagi seorang suami setelah melangsungkan akad nikahnya untuk meletakkan tangannya di kening istrinya sambil berdoa,” Allahumma Innii Asaluka Min Khoiriha wa Khoiri Ma Jabaltaha Alaihi. Wa Audzu bika Min Syarri wa Syarri Ma Jabaltaha Alaih—Wahai Allah sesungguhnya aku memohon kepada-Mu kebaikannya dan kebaikan dari apa yang Engkau berikan kepadanya serta Aku berlindung kepada-Mu daripada keburukannya dan keburukan yang Engkau berikan kepadanya..”
Selain itu dianjurkan bagi mereka berdua untuk melaksanakan shalat dua rakaat dan berdoa kepada Allah agar diberikan kebaikan dan dihindarkan dari keburukan. Diriwayatkan Ibnu Syaibah dari Ibnu Masud, dia mengatakan kepada Abi Huraiz,”Perintahkan dia untuk shalat dua rakaat dibelakang (suaminya) dan berdoa,”Allahumma Barik Lii fii Ahlii dan Barik Lahum fii. Allahummajma’ Bainanaa Ma Jama’ta bi Khoirin wa Farriq Bainana idza Farroqta bi Khoirin—Wahai Allah berkahilah aku didalam keluargaku dan berkahilah mereka didalam diriku. Wahai Allah satukanlah kami dengan kebaikan dan pisahkanlah kami jika Engkau menghendaki (kami) berpisah dengan kebaikan pula.”
Dari Syaqiq berkata,”Datang seorang laki-laki yang dipanggil dengan Abu Huraiz lalu dia berkata kepada Ibnu Mas’ud,’Sesungguhnya aku menikahi seorang budak perempuan perawan. Sesungguhnya aku takut dia akan membenciku.’ Lalu Abdullah (bin Mas’ud) mengatakan, ’Seungguhnya rasa cinta berasal dari Allah dan kebencian dari setan yang ingin menjadikan kebencian kepada kalian terhadap apa-apa yang dihalalkan Allah. maka jika dia mendatangimu maka shalatlah dua rakaat dibelakangmu.” (Dikeluarkan oleh Ibnu Abi Syaibah)
Jika seorang wanita yang baru melangsungkan akad nikah sedang dalam keadaan haidh maka cukuplah dirinya dan suaminya berdoa kepada Allah swt meminta kebaikan dari-Nya bagi mereka berdua dan keluarganya.
Wallahu A’lam
Ustadz Sigit Pranowo Lc
sumber: Eramuslim.comhttps://www.eramuslim.com/ustadz-menjawab/doa-dan-sholat-sunnah-berjamaah-di-malam-pertama.htm#.V7cXDNERU8p
Ustad, insyaAllah sebentar lagi saya menikah. Ada dua hal yang ingin saya tanyakan berkenaan dengan malam pertama (maaf jika pertanyaannya terlalu vulgar)
- Apakah doa “Allahumma jannibnas syaithoona, dan seterusnya” itu dibaca menjelang jima’ atau sebelum menyentuh (mencium) ist7yuri?
- Jika pada saat ijab qabul istri sedang haid, bagaimana dengan sholat sunnah berjama’ahnya? Apakah harus dilakukan setelah istri suci? atau langsung mendoakannya dengan memegang ubun-ubun istri?
Waalaikumussalam Wr Wb
Doa Ingin Berjima’
Dari Ibnu Abbas berkata.”Rasulullah saw bersabda,’Seandainya seorang dari kalian ingin mendatangi keluarganya (hendaklah dia ) berdoa : Allahumma Jannibnasy Syaithon wa Jannibisy Syaithon Maa Rozaqtanaa (Wahai Allah jauhilah kami dari setan dan jauhilah setan dari kami terhadap rezeki yang Engkau berikan kepada kami). Sesungguhnya jika dikehendaki diantara mereka berdua seorang anak saat itu maka setan tidaklah dapat mencelakakannya selamanya.” (Muttafaq Alaihi)
Ash Shan’aniy mengatakan bahwa ini merupakan lafazh dari Imam Muslim. Hadits ini merupakan dalil agar berdoa sebelum berhubungan dengan istri ketika muncul keinginan untuk itu. Riwayat ini menafsirkan riwayat ,”Seandainya seorang dari kalian berdoa saat mendatangi istrinya—dikeluarkan oleh Bukhori—bahwasanya maksud dari saat adalah ingin. Kata ganti dari jannibna adalah untuk laki-laki (suami) dan perempuan (istri). (Subul as Salam juz III hal 273)
Jadi doa tersebut dibaca seseorang ketika hendak menggauli istrinya sebelum berbagai muqoddimah (permainan) jima’ dilakukan.
Mendoakan Istri dan Shalat Dua Rakaat Setelah Ijab Kabul
DIanjurkan bagi seorang suami setelah melangsungkan akad nikahnya untuk meletakkan tangannya di kening istrinya sambil berdoa,” Allahumma Innii Asaluka Min Khoiriha wa Khoiri Ma Jabaltaha Alaihi. Wa Audzu bika Min Syarri wa Syarri Ma Jabaltaha Alaih—Wahai Allah sesungguhnya aku memohon kepada-Mu kebaikannya dan kebaikan dari apa yang Engkau berikan kepadanya serta Aku berlindung kepada-Mu daripada keburukannya dan keburukan yang Engkau berikan kepadanya..”
Selain itu dianjurkan bagi mereka berdua untuk melaksanakan shalat dua rakaat dan berdoa kepada Allah agar diberikan kebaikan dan dihindarkan dari keburukan. Diriwayatkan Ibnu Syaibah dari Ibnu Masud, dia mengatakan kepada Abi Huraiz,”Perintahkan dia untuk shalat dua rakaat dibelakang (suaminya) dan berdoa,”Allahumma Barik Lii fii Ahlii dan Barik Lahum fii. Allahummajma’ Bainanaa Ma Jama’ta bi Khoirin wa Farriq Bainana idza Farroqta bi Khoirin—Wahai Allah berkahilah aku didalam keluargaku dan berkahilah mereka didalam diriku. Wahai Allah satukanlah kami dengan kebaikan dan pisahkanlah kami jika Engkau menghendaki (kami) berpisah dengan kebaikan pula.”
Dari Syaqiq berkata,”Datang seorang laki-laki yang dipanggil dengan Abu Huraiz lalu dia berkata kepada Ibnu Mas’ud,’Sesungguhnya aku menikahi seorang budak perempuan perawan. Sesungguhnya aku takut dia akan membenciku.’ Lalu Abdullah (bin Mas’ud) mengatakan, ’Seungguhnya rasa cinta berasal dari Allah dan kebencian dari setan yang ingin menjadikan kebencian kepada kalian terhadap apa-apa yang dihalalkan Allah. maka jika dia mendatangimu maka shalatlah dua rakaat dibelakangmu.” (Dikeluarkan oleh Ibnu Abi Syaibah)
Jika seorang wanita yang baru melangsungkan akad nikah sedang dalam keadaan haidh maka cukuplah dirinya dan suaminya berdoa kepada Allah swt meminta kebaikan dari-Nya bagi mereka berdua dan keluarganya.
Wallahu A’lam
Ustadz Sigit Pranowo Lc
sumber: Eramuslim.comhttps://www.eramuslim.com/ustadz-menjawab/doa-dan-sholat-sunnah-berjamaah-di-malam-pertama.htm#.V7cXDNERU8p
Selasa, 16 Agustus 2016
Rabu, 03 Agustus 2016
BILA ISTRIMU SEORANG BIDAN
BILA ISTRIMU SEORANG BIDAN 😊😊
(Request ini udah banyak banget dari kemaren, nih dicariin dari partner Sehat Indonesiaku, semoga bermanfaat yaa 😉)
(Bayu Amd Ak Skm)
Jika kamu berpikir bahwa memiliki seorang bidan berarti ia memiliki banyak waktu di rumah untuk menemanimu dan keluarga, percayalah, bahwa asumsimu tak sepenuhnya benar. Aku ceritakan sedikit.
(Request ini udah banyak banget dari kemaren, nih dicariin dari partner Sehat Indonesiaku, semoga bermanfaat yaa 😉)
(Bayu Amd Ak Skm)
Jika kamu berpikir bahwa memiliki seorang bidan berarti ia memiliki banyak waktu di rumah untuk menemanimu dan keluarga, percayalah, bahwa asumsimu tak sepenuhnya benar. Aku ceritakan sedikit.
Bidan. Perempuan yang separuh hidupnya berhubungan dengan perempuan,
keluarga, dan anak-anak. Lahan kerja kami “sedikit”. Menolong
persalinan, memeriksa ibu hamil, mendeteksi penyakit reproduksi, memberi
konseling remaja dan keluarga berencana. Dari pekerjaanku inilah, aku
bersyukur karena aku bisa lebih dekat dengan perempuan-perempuan di
sekitarku, entah sebagai seorang ibu, seorang remaja, anak-anak, bahkan
wanita tuna susila. Aku belajar banyak dari mereka.
Perempuan. Kami makhluk yang spesial, bisa multitasking. Dalam profesi bidan, aku bisa bekerja di beberapa tempat: di Rumah Sakit, puskesmas, atau membuka praktek di rumah sendiri. Di Rumah Sakit dan puskesmas, tekanan pekerjaanku cukup tinggi. Pasien yang banyak, rekan sejawat yang tidak bisa bekerja sama dengan baik, laporan harian dan bulanan yang harus diselesaikan, sampai kematian ibu atau bayi.
Ketika kau menyambutku pulang ke rumah dengan lesu, cukup berikan aku sebuah pelukan, lalu dengarkan cerita-cerita yang ingin aku sampaikan. Mungkin saja saat itu aku sedang dimarahi atasan, dimarahi pasien, atau mungkin baru saja melihat seorang ibu yang kehilangan anaknya, atau melihat seorang ibu yang meninggal setelah persalinan, lebih buruk lagi; melihat seorang ibu yang menangis karena kehilangan bayi dalam kandungannya, sedang ia telah menunggu bayi itu hadir setelah delapan tahun.
Jika aku membuka praktek bidan di rumah, aku bisa berinteraksi dengan pasien-pasienku lebih leluasa. Menolong persalinan di rumah, melakukan konseling pribadi. Sebagian waktuku akan habis aku gunakan untuk menangani klienku. Belum lagi jika ada pasien yang datang di malam hari.
Ketika kau baru pulang kerja larut malam, belum tentu aku bisa menyambutmu dengan membuatkan air panas untukmu mandi atau secangkir kopi. Disaat yang sama, di ujung pintu rumah kita, bisa jadi ada seorang ibu yang kesakitan karena hendak melahirkan, atau seorang ibu dengan wajah iba mengetuk pintu rumah kita, karena anaknya menderita demam.
Jika kau mendengar suara pintu diketuk ditengah malam, dan kau melihatku tertidur, bangunkan aku dengan lembut dari tidurku. Itu akan sangat membantuku.
Jika pasien yang aku tangani memerlukan pertolongan lanjutan, tolong bantu aku mengantar pasienku ke rumah sakit. Kau mungkin tak paham mengapa pasien ini harus dibawa ke rumah sakit. Jika kau terbiasa, maka kau akan paham. Belum lagi jika agenda mingguan kita untuk pergi bersama batal karena ada yang hendak bersalin. Tolong, jangan kecewa. Bantu aku memberikan pengertian pada anak kita kelak.
Aku memang sibuk dengan pasien-pasienku di rumah, namun tak perlu khawatir. Tak perlu kau takut kelaparan hanya karena aku sibuk dengan pasienku. Aku sudah memasak untuk kau, dan pasienku yang hendak bermalam untuk melahirkan. Disela-sela pasien yang datang, aku juga menemani anak kita belajar dan mengerjakan PR.
Jika kau menikahi seorang bidan, jangan pernah berasumsi kau menikahi seorang yang kaya raya. Penghasilan kami tak seberapa. Jika lebih dari cukup, percayalah, itu hadiah dari Tuhan.
Jangan tuntut aku untuk melepas pengabdian dengan alasan menomerduakan keluarga. Bagiku, keluarga selalu nomer satu, walau aku tak selalu bisa menemani, bahkan hanya mendoakan dalam hati. tapi pengabdian takkan pernah benar-benar berhenti.
Sebagai Perempuan, aku memang terlahir dengan naluri mandiri dan multitasking. Namun, keberadaanmu disisi akan lebih menenangkan.
Perempuan. Kami makhluk yang spesial, bisa multitasking. Dalam profesi bidan, aku bisa bekerja di beberapa tempat: di Rumah Sakit, puskesmas, atau membuka praktek di rumah sendiri. Di Rumah Sakit dan puskesmas, tekanan pekerjaanku cukup tinggi. Pasien yang banyak, rekan sejawat yang tidak bisa bekerja sama dengan baik, laporan harian dan bulanan yang harus diselesaikan, sampai kematian ibu atau bayi.
Ketika kau menyambutku pulang ke rumah dengan lesu, cukup berikan aku sebuah pelukan, lalu dengarkan cerita-cerita yang ingin aku sampaikan. Mungkin saja saat itu aku sedang dimarahi atasan, dimarahi pasien, atau mungkin baru saja melihat seorang ibu yang kehilangan anaknya, atau melihat seorang ibu yang meninggal setelah persalinan, lebih buruk lagi; melihat seorang ibu yang menangis karena kehilangan bayi dalam kandungannya, sedang ia telah menunggu bayi itu hadir setelah delapan tahun.
Jika aku membuka praktek bidan di rumah, aku bisa berinteraksi dengan pasien-pasienku lebih leluasa. Menolong persalinan di rumah, melakukan konseling pribadi. Sebagian waktuku akan habis aku gunakan untuk menangani klienku. Belum lagi jika ada pasien yang datang di malam hari.
Ketika kau baru pulang kerja larut malam, belum tentu aku bisa menyambutmu dengan membuatkan air panas untukmu mandi atau secangkir kopi. Disaat yang sama, di ujung pintu rumah kita, bisa jadi ada seorang ibu yang kesakitan karena hendak melahirkan, atau seorang ibu dengan wajah iba mengetuk pintu rumah kita, karena anaknya menderita demam.
Jika kau mendengar suara pintu diketuk ditengah malam, dan kau melihatku tertidur, bangunkan aku dengan lembut dari tidurku. Itu akan sangat membantuku.
Jika pasien yang aku tangani memerlukan pertolongan lanjutan, tolong bantu aku mengantar pasienku ke rumah sakit. Kau mungkin tak paham mengapa pasien ini harus dibawa ke rumah sakit. Jika kau terbiasa, maka kau akan paham. Belum lagi jika agenda mingguan kita untuk pergi bersama batal karena ada yang hendak bersalin. Tolong, jangan kecewa. Bantu aku memberikan pengertian pada anak kita kelak.
Aku memang sibuk dengan pasien-pasienku di rumah, namun tak perlu khawatir. Tak perlu kau takut kelaparan hanya karena aku sibuk dengan pasienku. Aku sudah memasak untuk kau, dan pasienku yang hendak bermalam untuk melahirkan. Disela-sela pasien yang datang, aku juga menemani anak kita belajar dan mengerjakan PR.
Jika kau menikahi seorang bidan, jangan pernah berasumsi kau menikahi seorang yang kaya raya. Penghasilan kami tak seberapa. Jika lebih dari cukup, percayalah, itu hadiah dari Tuhan.
Jangan tuntut aku untuk melepas pengabdian dengan alasan menomerduakan keluarga. Bagiku, keluarga selalu nomer satu, walau aku tak selalu bisa menemani, bahkan hanya mendoakan dalam hati. tapi pengabdian takkan pernah benar-benar berhenti.
Sebagai Perempuan, aku memang terlahir dengan naluri mandiri dan multitasking. Namun, keberadaanmu disisi akan lebih menenangkan.
Langganan:
Postingan (Atom)








